Suara bacaan Al-Qur’an mengalun keras dari pengeras suara di masjid atau mushalla. Beberapa orang saling bergantian membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan satu tujuan, menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah. Demikianlah suasana yang kita dapati di masjid atau mushalla pada setiap malam bulan Ramadhan. Seolah-olah di bulan Ramadhan ini tiada hari tanpa Al-Qur’an. Al-Qur’an begitu sering kita baca dan bahkan kita khatamkan. Apalagi di bulan Ramadhan ini.Al-Qur’an memang luar biasa, penuh dengan keberkahan. Membacanya saja meski tanpa memahami maknanya sudah berpahala, dengan hitungan satu pahala untuk setiap hurufnya, lalu satu pahala tersebut dilipatkan menjadi sepuluh. Namun itu tidak berarti bahwa membacanya saja sudah cukup. Lebih dari sekadar membaca, kita juga harus selalu berusaha berinteraksi secara lebih baik lagi dengan Al-Qur’an.
Setiap orang yang sudah terbiasa membaca Al-Qur’an, seharusnya berusaha juga untuk bisa memahami maknanya. Agar tidak berhenti pada aktifitas membaca saja. Karena membaca yang benar adalah membaca dengan berusaha mengerti akan maknanya. Sebagaimana kalau kita membaca teks berbahasa Indonesia.
Sebetulnya, kita sudah memiliki banyak sarana untuk bisa mengetahui isi Al-Qur’an dengan disertai pemahaman akan maknanya. Kalau kita belum paham bahasa Arab. Banyak sekali pengajian atau majelis taklim yang membahas secara khusus tentang tafsir Al Qur’an. Tinggal kita pilih majelis taklim yang mana. Sekarang sudah banyak juga Al-Qur’an beserta terjemahannya. Dengan Al-Qur’an terjemahan itu, kita bisa membaca terjemahannya. Dengan sarana seperti itu kita akan bisa memahami apa yang kita baca.
Setelah itu, yang juga penting adalah berusaha mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah kita baca. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan kepada manusia untuk menjadi petunjuk hidup. Nah, ketika Al-Qur’an telah diamalkan dalam kehidupan maka ketika itulah ia akan meninggalkan jejaknya di tengah-tengah kehidupan kita.